SUMENEP, — Sebanyak 30 peserta yang terdiri dari siswa SMA YAS’A Sumenep dan santri dari berbagai pondok pesantren di Sumenep mengikuti kegiatan Kaderisasi Ahli Hisab dan Rukyat yang diselenggarakan Lembaga Falakiyah PCNU Sumenep di SMA YAS’A Sumenep. Kegiatan yang diadakan pada Sabtu-Minggu, 25-26 Juli 2026 ini menjadi upaya menyiapkan kader muda yang memiliki kompetensi di bidang ilmu falak sekaligus memperkuat regenerasi ahli hisab dan rukyat di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Dalam sambutannya, Pengasuh Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar, K. Moh. Saifa Abudillah mengatakan ilmu falak memiliki posisi penting dalam kehidupan umat Islam karena berkaitan dengan pelaksanaan ibadah, seperti penentuan arah kiblat, waktu salat, hingga awal bulan Hijriah. Meski demikian, ia menegaskan bahwa ketidaktahuan terhadap ilmu falak tidak serta-merta membatalkan ibadah seseorang. Menurutnya, mempelajari ilmu falak sangat dianjurkan, tetapi bukan termasuk fardu ain bagi setiap Muslim.
Pelatihan yang dihadiri oleh santri-santri dari berbagai daerah di Sumenep, disambut positif oleh Kepala SMA YAS’A Sumenep, M. Hantok Sudarto, M.Fil.I, Ia mengungkapkan, pelatihan semacam ini telah lama direncanakan dan akhirnya dapat direalisasikan pada tahun ini. Sebagai tindak lanjut, sekolah berencana membentuk Tim Falakiyah SMA YAS’A dan menggelar pelatihan lanjutan agar kemampuan peserta terus berkembang.
Pemateri, K. Fathurrozi, pengurus Lembaga Falakiyah PCNU Sumenep, menilai minat generasi muda terhadap ilmu falak masih terkendala anggapan bahwa bidang tersebut identik dengan perhitungan yang rumit. Padahal, menurut dia, perkembangan teknologi telah membuat proses pembelajaran menjadi lebih mudah.
“Padahal sekarang kita sudah sangat terbantu oleh berbagai alat bantu seperti Excel maupun aplikasi di android. Kita tidak lagi harus menghitung semuanya secara manual. Karena itu jangan takut belajar ilmu falak hanya karena menganggapnya sulit, dan jangan juga khawatir mengenai prospek. Ilmu falak sangat dibutuhkan masyarakat, terutama dalam penentuan awal Ramadan, Idulfitri, arah kiblat, dan berbagai persoalan ibadah lainnya. Selain itu, ilmu falak merupakan bagian dari tradisi keilmuan pesantren. Dahulu para kiai di pesantren juga mempelajari ilmu falak sebagaimana mereka mempelajari fikih,” kata Fathurrozi.
Sementara itu, guru besar ilmu falak UIN Madura yang turut hadir dan membimbing peserta, Prof. Dr. H. Ahmad Mulyadi, M.Ag., mengatakan bahwa ilmu falak kini tidak lagi dipahami sebatas kajian penentuan waktu ibadah, tetapi telah berkembang menjadi bagian dari ilmu astronomi dengan ruang kajian yang lebih luas.
“Ilmu falak pada dasarnya merupakan bagian dari ilmu astronomi yang fokus pada persoalan-persoalan ibadah, seperti arah kiblat, waktu salat, awal bulan Hijriah, maupun gerhana,” ujar guru besar yang juga alumnus Pondok Pesantren Mathali’ul Anwar tersebut.
Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan telah memperluas cakupan kajian falak hingga mencakup penelitian mengenai matahari, bulan, bumi, dan berbagai fenomena astronomi lainnya.
“Tantangan generasi berikutnya adalah memperluas kajian ilmu falak, tidak hanya pada aspek ibadah, tetapi juga pada astronomi secara umum,” kata penasehat LFNU ini.
Ia berharap semakin banyak pelajar yang tertarik mendalami ilmu falak.
“Ilmu falak bukan hanya teori, tetapi juga praktik. Kita akan melakukan pengamatan langit, rukyatul hilal, praktik hisab, dan berbagai kegiatan lapangan lainnya. Saya berharap murid-murid SMA menjadikan ilmu falak sebagai ilmu yang menyenangkan. Belajarnya bukan hanya di ruang kelas, tetapi juga melalui pengalaman langsung di lapangan. Dengan cara seperti itu, mempelajari ilmu falak akan menjadi pengalaman belajar yang sekaligus menjadi rekreasi ilmiah,” tutur Mulyadi.
Pewarta : Alif Ilham
Editor : Ulil Abshar




